Top Ad unit 728 × 90

News Ticker

recentposts
[kategori 1][slider][#000000]

Hasil Ijtimak Fashli 2015 di Semarang

HASIL IJTIMAK FASHLI 2015
Tanggal 11, 12, 13 Juni
di Semarang

Kamis, 11 Juni 2015
·         Iftitah yang disampaikan oleh Al-Habib Hasan bin Ismail Al-Muhdor
·         Pembacaan jadwal dan tata tertib ijtimak oleh Ust. Muhammad Nasihin
·         Pembacaan Akhbar Dakwah JATIM oleh Ust. Qusyairi (terlampir)
·         Pembacaan Akhbar Dakwah JATENG oleh Ust. Umar Husein As-Segaf (tidak terlampir)
·         Pembacaan Akhbar Dakwah JAKARTA oleh Habib Syafiq BSA (terlampir)

 Rouhah Oleh Habib Sholeh Al-jufri

  • Banyaknya kelalaian seorang da’i untuk mengurusi diri sendiri di dalam meningkatkan pemahaman, adab, wirid, dan selainnya disebabkan sibuknya dengan jadwal dakwahnya untuk orang lain. Dan hal itu termasuk kekurangan seorang da’i.
  • Semua jadwal dakwah seseorang hendaknya ia tidak melupakan dakwah untuk dirinya sendiri yaitu dengan melazimkan wirid, sholat malam dan khalwat dengan Rabbnya, hizb Quran, begitu juga untuk keluarganya.
  • Adapun seseorang yang paling cocok untuk bisa memonitor seorang da’i adalah ikhwan atau temannya dalam dakwah, yaitu  dengan saling menegor kekurangan yang ada di dalam diri masing-masing.
  • Hendaknya seorang da’i bisa menerima nasehat dari orang lain untuk dirinya. Dan hal itu adalah hadiah yang paling besar yang diberikan orang lain untuk dirinya.
  • Pentingnya istimdad (mengambil faedah dari ilmu dan selainnya) seseorang kepada saudaranya dan kepada orang lain, sebagaimana Al-Habib Abdullah Alydrus mengatakan : “Sesungguhnya dahulu aku istimdad kepada alam semesta, dan sekarang alam semesta mendapatkan madad dariku
  • Pentingnya seorang da’i memiliki waktu khusus untuk membaca kitab gurunya dan para salafnya seperti : Al-Habib Umar bin Hafidz, Al-habib Salim As-Syathiri, Al-Habib Ali bin Muhammad Habsyi, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad, dan lain-lain. Atau mendengarkan ceramah-ceramahnya, kemudian menjadikannya sebagai rutinitas yang tidak ditinggalkan.
  • Pentingnya duduk di dalam ijtimak setiap tahunnya, atau setiap bulannya dengan para da’i yang tujuannya untuk memperoleh pertolongan dari Allah, sebab dikatakan “Yadullah ma’al Jamaah”. Serta pentingnya irtibath (hubungan) seseorang satu dengan yang lainnya untuk saling mengingatkan perihal gurunya sehingga bertambah masyhad (cara pandangdi dalam hati) dalam diri seorang da’i.
  • Termasuk bahaya bagi seorang da’i adalah merasa dirinya syu’unul istidlal yaitu merasa cukup dengan dirinya sendiri dan tidak butuh lagi kepada gurunya, serta merasa mampu mengemban dakwah umat ini tanpa melihat kekurangan yang ada pada dirinya.
  • Termasuk pesan Al-Habib Umar bin Hafidz yaitu hendaknya seseorang melakukan tahqiqul ubudiyah (peningkatan ibadah) kepada Allah, dengan amalan ibadah yang istiqomah, dan pentingnya hadir di dalam perkumpulan ijtimak dengan para da’i.
  • Dengan hadirnya seorang alumni di dalam ijtimak berarti ia telah imtitsalul amr (mematuhi perintah) gurunya dan hal itu adalah sebaik-baiknya adab.
  • Termasuk faedah yang didapat di dalam ijtimak yatiu ta’aruf  (saling mengenal) diantara anggota Al-wafa, serta ta’aluf (menambah kecintaan) dengan para anggota bagi yang sudah dikenalnya.
  • Al-istifadah minal akharin (saling mengambil faedah diantara para anggota Al-Wafa) yang hal itu bisa diambil dengan penyampaian akhbar dakwahnya.
  • Taqwiyatul Irtibat bis Syekh (menguatkan ikatan dengan guru), dan hal ini termasuk tujaun dan faedah dari ijtimak yang diadakan.
  • Takhtith Amal Assanawiy (perencanaan langkah dakwah ke depan) dengan cara saling memusyawarahkan diantara anggota yang hadir.

Hal-hal yang diinginkan oleh Al-Habib Umar bin Hafidz di dalam dakwahnya di Indonesia setiap tahunnya yaitu :

  1. Setiap kedatangan Al-Habib Umar atau pun habaib yang lainnya, kegiatan dakwah harus berhubungan dengan ketiga majelis ini yaitu Majelis Al-Wafa, Majelis Muwasholah, dan Rabithah Alawiyah.
  2. Adapun peran dakwah Majelis Muwasholah yaitu lebih condong ke dalam dakwah kepada para Kyai, sedangkan Rabithah Alawiyah dengan para alawiyyin, dan Al-Wafa lebih menekankan dakwah kepada orang-orang awam.
  3. Termasuk wasilah dakwah yang bisa dilakukan oleh Al-Wafa adalah membuat majelis ‘ammah (majelis untuk umum), yang meliputi diantaranya :
  • Membuat majelis untuk orang awam dan para pemuda, yang dikhususkan waktunya senin malam atau yang lebih dikenal dengan Jalsatul Itsnain.
  • Membangun ma’had atau pondok pesantren, atau mengajar di dalamnya.
  • Membuat Wasail dakwah seperti radio, televisi, buletin, majalah, dan lain-lain.
  • Membuat dauroh untuk orang-orang awam.




PEMBAHASAN 1

PENTINGNYA DAKWAH DI KAMPUS DAN AKADEMISI

    Pandangan para alumni terkait pembahasan diatas : 
  • Dikuasainya lembaga-lembaga birokrasi dan media-media oleh orang-orang kampus. Dan adanya pengambilan menteri atau kabinet negara dari golongan orang-orang akademisi.
  • Keberadaan program BIDIK MISI yang dilakukan pemerintah, yaitu mereka membiayai mahasiswa untuk sekolah di pondok pesantren.
  • Ditekankan adanya dakwah ke kampus-kampus dari anggota Al-wafa di setiap kota.
  • Pentingnya gelar bagi seorang da’i di dalam berdakwah di dalam kampus.
  • Adanya gerakan-gerakan dakwah orang-orang yang beda pemahaman yaitu :

  1. Dengan menawarkan kurikulum agama menurut versi mereka serta masuk ke sekolah-sekolah dan menyiapkan guru-gurnya dengan tanpa adanya bayaran.
  2. Membuat halaqah-halaqah yang bersifat ilegal di sekolah-sekolah dan rumah-rumah
  3. Menyiapkan regenerasi untuk menyebarkan paham-paham mereka di kampus

  • Banyaknya lembaga-lembaga pendidikan umum yang sekarang ingin untuk berbasis agama di dalam kurikulumnya.
  • Adanya sistem pembelajaran dengan metode akademik yang hal itu bisa digunakan untuk mengembangkan pondok pesantren.
  • Hendaknya ada ikatan yang kuat yang sifatnya ubudiyah sehingga dengannya dakwah menjadi lancar.
  • Hendaknya para da’i merasa bahwa dakwah yang dilakukannya adalah membawa nama mulia Al-Habib Umar bin Hafidz. 
Usulan - usulan
  • Al-Wafa diminta untuk membuat sistem  dakwah di akademisi dalam waktu yang tidak lama yang kemudian bisa disebarkan kepada anggota yang lain.
  • Membuat dauroh di kalangan akademisi oleh para alumni yang dengannya menghasilkan jaringan-jaringan dakwah ke dalam kampus
  • Membuat PESMA (pesantren mahasiswa), atau kajian-kajian islami yang ada di kampus dengan cara masuk ke organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus
  • Membuat majelis yang dimulai dari lembaga yang kecil seperti TK, lalu MI, dan seterusnya
  • Pembuatan kode etik oleh Al-Wafa pusat dan diemailkan ke masing-masing mutabi’
  • Pembuatan boarding school atau sekolah elit
  • Pembuatan cabang Al-Wafa di Kaltara (Kalimantan Utara) seperti Tarakan dan Berau. Begitu juga Bekasi, Tangerang dan Cirebon hendaknya juga dibuat cabang tersendiri, hal ini tidak lain disebabkan karena jauhnya jarak dan sulitnya ijtimak secara rutin.
  • Pembuatan grup khusus mutabi’ dan ashab Syuro melalui media Whats App
  • Permintaan jawaban dari beberapa pertanyaan yang diajukan semalam terkait dengan kode etik dan yang lainnya, untuk bisa dibagikan kepada anggota sebelum pulang
  • Pembuatan format Akhbar Dakwah setiap tahunnya, sehingga laporan yang dikumpulkan akan sama
  • Hendaknya dibuat pemetaan program-program mana yang sifatnya didahulukan dan mana yang sifatnya jangka panjang
  • Dibutuhkannya persiapan yang matang di dalam percetakan buku, sebab ini adalah pekerjaan yang besar
  • Tulisan-tulisan tentang perihal Al-Habib umar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan hendaknya dibuat pernyataan resmi AL-WAFA bahwa itu bukan dari majelis Al-Wafa dan majelis tidak bertanggung jawab di dalamnya

·         PEMBAHASAN 2

PENGENALAN JALSATUL ITSNAIN

     Oleh Al-Habib Quraisy Baharun
  1. Dibuatnya Jalsatul Itsnain adalah perintah dari Al-Habib Umar bin Hafidz.
  2. Membuat komunikasi dengan para ulama setempat dengan membaca beberapa kitab di majelis yang merujuk kepada 3 ulama besar : Imam Al-Ghazali, Imam As-Syakroni, dan Imam Al-Haddad
  3. Apabila seseorang ingin membuka Jalsatul Itsnain hendaknya meminta izin langsung kepada Al-Habib Umar bin Hafidz










Hasil Ijtimak Fashli 2015 di Semarang Reviewed by Al Wafa on 11:57 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Alwafa Indonesia © 2015

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.